Anak-Anak Papua di Film “Sa Butuh Ko Pu Cinta”

Oleh Soleman Itlay (24 October 2017)

Kekayaan Masalah di Wamena

Wamena…. Wamena… Kota penuh anak-anak jalanan. Kota penuh anak-anak putus sekolah. Kota penuh pengisap Aibon. Kota penuh anak-anak pengangkat barang. Kota penuh abang becak. Kota penuh pencuci kendaraan. Kota penuh minuman keras. Kota penuh orang sakit.. Kota penuh pedagang kaki lima. Kota penuh orang miskin. Kota penuh kemelaratan. Kota penuh kematian orang asli Papua dlsb.

Wajahnya tidak seperti tulisan “madu asli dari Wamena”, yang sering promosikan lewat media cetak dan elektronik. Segala jenis tanaman, baik sayur mayur dan buah-buahan yang tempo dulu kirim ke Singapura, Malaysia, Philipina, Astralia, New Zelland dan lain lewat program Irian Jaya Joint Development Foundation (JDF) kini mati suri. Sekarang semua sayur mayur, buah-buahan dan segala jenis tanaman, ternak dan barang didatangkan dari beras luar Wamena.

Sejumlah Sawah, usaha perikanan dan peternakan, serta potensi wisata alam dikembangkn tempo dulu oleh bupati J. B. Wenas dan Alberth Dien hilang jejak. Orang pribumi yang dikenal karena kuat kerja kebun (Wen), peliharan Wam (babi), dan pesta adat (Wene), semakin dilupakan di era pemekaran wilayah ini. Tempo dulu etika sosial di dalam masyarakat sangat menjujung tinggi. Jadi, pembawaan masyarakat dari sejak kecil telah mendidik secara praktis.

Anak-anak hidup di masing-masing kampung. Sebelum ada sekolah, anak-anak kecil main di tempat-tempat tertentu yang sering mereka main bersama. Kalau tidak, mereka ikut orang tua ke kebun, hutan dan kemana saja menurut agenda orang tua. Anak-anak dulu tidak jalan di sembarang tempat. Masing-masing kampung punya batas wilayah sesuai perarturan yang berlaku di masyarakat. Mereka tidak bergaul sembarangan. Laki-laki perempuan main bersama.

Tetapi itu, bagi anak-anak yang masih berusia 10 tahun kebawah. Lebih dari itu, mereka bisa berkebun, cari kayu, timbah air dan semua pekerjaan sampingan di rumah. Tanpa di suruh, anak mampu mengisi pekerjaan lain yang bisa menopang kenyamanan dalam rumah tangga. Sewaktu misionaris dan pemerintah di buka di daerah ini, JDF mengarahkan masyarakat kepada nilai-nilai hiidup masyarakat. Setiap basis masyarakat diarahkan untuk berkebun, bertani, beternak, bersawah, dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, tingkat pengangguran tempo dulu jauh lebih kecil ketimbang sekarang ini. Setelaha adanya pemekaran wilayah, yakni kabupaten, distrik dan kampung, sudah membela konsentrasi masyarakat pribumi. Semua orang dari kecil-besar langsung masuk ke dalam dunia yang di sebut ambisius dan konsumtif. Semangat bekerja sudah makin sirna di muka umum. Tetapi yang ada saat ini ialah kecil besar turun (masuk) di kota urus pemekaran kampung dan distrik masing-masing.

Lihat saja, bapa jalan sendiri, mama jalan sendiri dan anak juga jalan sendiri. Tidak ada lagi yang bisa mengatur satu sama lain. Jika sebuah keluarga saja sudah tidak bisa saling menasehati, maka jangan pikir di dalam honai adat, gereja, kampung dan komunitas lain hidup teratur sebagaimana hidup orang “Hugula” tempo dulu. Sudah sangat tidak bisa mengatur masyarakat yang bergantung pada uang otonomi khusus melalui pemekaran tersebut.

Tidak hanya masyarakat lupa nilai hidup, akan tetapi juga dari sisi agama yang dianut oleh warga masyarakat, dewasa ini semakin parah. Masyarakat tidak bisa lagi berdoa dan sembayang di gereja. Bahkan kalau sakit juga tidak bisa meminta kesembuhan di tua-tua adat. Bakal lupa mengonsumsi obat-obatan dan ramuan tradional. Sakit juga tidak bisa berobat di rumah sakit. Mereka anggap di rumah sakit itu bukan lagi tempat orang mencari kesembuhan.

Tetapi tempat orang dimana sakitnya semakin diperparah dan sengaja dikasih mati. Masyarakat anti dengan kalimat, “setiap orang yang ke rumah sakit pasti pulang dengan kabar buruk (kematian). Sampai sakit model bagaimana pun tetap bertahan di rumah dan tempat dimana saja mereka berada. Seperti pelapor khusus PBB di bidang kesehatan katakan, kecil sekali orang Papua percaya Jakarta. Petugas di rumah sakit kebanyakan non Papua, jadi masyarakat tidak percaya, bahwa rumah sakit menjamin keselamatan orang pribumi.

Apalagi model rumah sakit dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan. Tentu ini membuat masyarakat semakin tidak mau lagi di rumah sakit. Lihat saja, fasilitas dan peralatan medis terbatas. Bahkan gedungnya sekalipun rumah sakit ini adalah barometer pegunungan tengah, tetapi wajah rumah sakitnya senantiasa mengahantui masyarakat. Belum lagi dengan masalah teknis lainnya. Sungguh mati tempat ini ada potensi bencana dan ancaman kemanusiaan yang sangat serius.

Sewaktu rajin sembayang di gereja, orang pribumi suka mohon kessembuhan kepada Tuhan lewat pastor, pendeta dan gembala. Bahkan selain itu, meminta pertolongan ke honai adat atau warga setempat yang  punya kemampuan untuk menyembuhkan sakit dan penyakit (wisagun). Semakin parah, karena arena kehidupan masyakat sudah meninggal dari kebiasaan. Dari waktu ke waktu, potensi masalah tumbuh dan berkembang besar. Perilaku masyarakat “Hugula” yang dikenal dengan suka menjaga sopan santun dan kedamaian makin tenggelam.

Karena basis-basis untuk mendidik manusia terutama moral, karakter, sikap dan spiritual sudah dimatikan secara sistematis. Contoh kecil, pendidikan berpola asrama gereja Katolik di Wamena sudah disegel mati. Program JDF sudah diambil ahli oleh kementerian keuangan pada tahun 1980-an. Buktinya, potensi alam dan kebiasaan masyarakat untuk mengelolah semua yang baik hilang tanpa jejak sedikitpun. Kebiasaan bakar batu secara berkala di dusun kampung tidak kelihatan dan masih banyak kekayaan masalah lain yang baru hilang.

Semua tempat, baik halaman istana adat, gereja dan termasuk di rumah dipenuhi dengan rerumputan tinggi. Sungguh semua pemukiman kampung menjadi kesunyian yang berkepanjangan. Gereja tua yang dilandasi dengan keringan dan pengorbanan, jarang dikunjungi oleh masyarakat sendiri. Istana adat dan gereja tua hanya tinggal cerita mati disamping kesepian yang tak terhingga. Semua orang, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa lari ke kota. Menetap disana dan lupa kembali ke perkampungan yang aman dan damai.

Sampai di kota juga bukan hidup sama-sama lagi. Masing-masing jalan dan cari nafkah sendiri-sendiri. Di dalam satu anggota keluarga saja cari makan masing-masing. Dapat pekerjaan dan uang bukan belanja makan untuk di rumah. tetapu setelah dapat makan di warung. Tidur pun  bukan satu rumah lagi. Masing-masing di tempat yang berbeda. Ada yang dengan keluarga terdekat. Tetapi bagi anak-anak kecil, remaja dan dewasa lainnya tidur di depan ruko, pinggir jalan, mall dan lain sebagainya. Sungguh mati ini kenyataan di Wamena.

Potret Anak-Anak Pribumi

Ada masalah besar yang belum pernah orang tahu di kota ini. Tentu hal itu menyangkut anak-anak asli Papua di kota Wamena. Dari waktu ke waktu jumlah anak-anak pribumi semakin bertambah banyak. Perwakilan dari kabupaten/kota ada semua di “Lembah Agung” ini. Sebagian besar dari pegunungan tengah, Papua. Jumlah mereka sangat majemuk sekali. Ada kecil-besar. Tersebar dimana-mana, di tempat yang ada keramaian.

Ada yang di jalan Irian, Yos Sudarso (kompleks Kodim), Trikora (depan Panti Asuhan Pelangi Wamena), terminal lama (Sinakma-Pasar lama), Pasar Sinakma, Pasar Baru (Jibama), Terminal Misi (Wouma), Pasar Potikelek, Pasar Pakikulowa (Tagumagenya), Kali Uwe dan Muarah (Belakang Gunung Berdosa); depan Tokoh Ropan, Himalaya 1 dan 2, Deretan Toko-Tokoh di Jalan Irian, Hotel Pilamo, Warung-Warung, Restoran, Mall Wamena dan lainnya.

Pekerjaann setiap tempat berbeda. Anak-anak yang di jalan Irian, depan tokoh, warung dan restoran, tutup-tutup karton di kaca mobil dan tempat duduk motor. Bagi yang di Pasar (Jibama) dan Bandara Udara Wamena, biasa angkat-angkat barang, kasih naik atau antar di tempat-tempat tertentu. Misalkan dari Pasar ke mobil, becak, motor dab bahkan ikut perintah dari sopir maupun para pembeli atau penjemput barang.

Ada pula ke pasar hanya untuk mencuri, ikut-ikut teman cium lem Aibon, main kartu dan gaplek, kelereng, nonton film tidak bagus, mengonsumsi minuman keras (Miras). Lainnya lagi, parkir di pinggir jalan menunggun kendaraan roda 2, 4, 6 dan 8. Tempatnya, di depan Panti Asuhan, Yos Sudarso (Kompleks Kodim 1702/JWJY), Misi dan sepanjang kali Uwe sampai di Muara antara sungai Palim dan Uwe. Terus banyak tempat lain juga yang belum diketahui oleh publik.

Perlindungan Anak Masih Lemah

Pemerintah Indonesia telah sahkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Lalu bagaimana dengan anak-anak di Agamua (sebutan lain untuk Wamena), setelah adanya kebijakan ini? Singkat kata, sangat memprihatinkan. Kadang kala anak-anak ini boleh dikatakan “belum” mendapatkan hak untuk hidup sehat, hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dan hak untuk mendapatkan pekerjaan yang sewajarnya.

Perlindungan terhadap hak anak-anak pribumi sangat langkah. Jangankan soal mereka di bidang pendidikan, kesehatan dan pekerjaan, makan dan minum saja jauh dari kata selayaknya. Bagaimana mereka mau makan dan minum baik? Kalau tiap hari pegang kartun di tangan, duduk di depan tokoh, restoran, warung, pasar dan lain sebagainya? Tidak mungkin juga sisihkan uang untuk peperluan lain, jika sebagian besar sudah terbiasa dengan isap Aibon dan Miras.

Sampai ada yang sakit sekalipun, siapa yang mau diperhatikan? Orang tua tahunya, anak mereka masih sehat. Mereka tidak bisa mengontrol baik. Orang tua sibuk dengan kepentingan sendiri dan anak juga tidak mau tahu dengan orang tua. Dulu boleh, sebelum adanya pemekaran kampung dan distrik, anak-anak bisa dikontrol oleh keluarga dan guru sekolah minggu. Tetapi situasi sekarang beda, orang tua sibuk dengan ambisi jabatan dan uang.

Sementara istri yang dulu hanya tahu menanam, malah sekarang perempuan yang pegang sekop ke kebun. Sangat setengah mati mau atur rumah tangga di kabupaten Jayawijaya sekarang ini. Orang bilang pemekaran bagus, bagus sampai mau muntah, tetapi sungguh pemerintahan kampung, distrik bahkan kabupaten, menghancurkan tatanan hidup orang asli Papua khususnya di Wamena. Dalam hal ini, orang tua, guru, pendeta, dan pastor mengatur dan melindungi anak-anak seperti dulu di kampung, sekolah dan gereja.

Hampir Semua Anak Putus Sekolah

Hampir semua anak-anak ini putus sekolah. Ada yang dari SD, SMP, SMA dan bahkan yang tidak sekolah sama sekali. Mereka berasal dari sekolah di pedalaman dan kota Wamena. Bukan hanya dari kabupaten induk, tetapi kabupaten Yalimo, Tolikara, Lanny Jaya, Nduga, Puncak Jaya, Mamberamo Tengah, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Paniai, Nabire, Timika, Dogiyai, Deyai, Merauke dan yang belum disebutkan satu-satu ada di barisan tersebut.

Mereka kebanyakan tidak melanjutkan sekolah sampai selesai. Banyak yang putus dari tengah-tengah semester. Kendala paling utama terletak pada keterbatasan biaya sekolah dan tempat tinggal yang dilengkapi dengan makan minum. Padahal mereka semua punya niat yang yang paling besar, agar bisa melanjutkan pendidikan sampai selesai. Anak-anak ini tidak bisa mengharapkan kepada siapa saja termasuk orang tua kandang dan keluarga dekat lainnya.

Mau mengharapkan ke orang lain juga tambah susah. Karena bapa urus pemekaran (jabatan dan uang), dan istri sibuk kerja kebun bahkan sampai melarikan diri ke orang lain. Otomatis tanpa disuru anak terlentar, sendirinya anak-anak pribumi terlantar di depan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat. Anak-anak generasi emas Papua gagal mencapai pendidikan sampai selesai. Sungguh ini realitas yang sangat amat ironis di kabupaten yang penuh KKN.

Film “Sa Butuh Ko Pu Cinta”

Lembah agung dewasa ini membutuhkan hakekat perlindungan anak, yaitu berasal dari Cinta dan Kasih Sayang. Bukan janji kata-kata cinta yang bau di muka umum, sewaktu musim hujan kepentingan symbol-simbol partai. Tetapi benar-benar dari hati dan cinta kasih yang bersumber dari hukum Allah. Menariknya, keluhan anak-anak ini terungkap dalam film documenter “Sa Butuh Ko Pu Cinta”, karya FX. Making dkk di Agamua.

Film ini sendiri sudah diposting di You Tube, dan dalam Festival Film Papua (FFP)  pada Agustus lalu ikut diputar dan ditonton oleh ratusan orang. Film tersebut mengisahkan tentang potret kehidupan anak-anak di kota Wamena. Mereka dipandu oleh FX. Making dan kawan-kawan. Setiap minggu mereka kumpul, berbagi cerita pengalaman, berdoa dan berekreasi bersama. Pendampingan yang dilakukan senior ini hanya dengan bekal Cinta Kasih dan Semangat Pendampingan semata. Sekitar Bersama Sahabat Nusantara.

Dalam Film documenter itu disebutkan begini: “Bukan penjual maupun pembeli saja ada disini. Namun sebagian besar anak-anak berada di tempat ini. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Lanny Jaya, Tolikara, Kurulu, Yalimo, Yahukimo dan masih banyak lagi. Disini lah tempat menafkahi  diri selama bertahun-tahun”.

Nando, salah satu anak yang sering bantu-bantu orang (pendatang) pemilik kios dan tokoh, tutup motor, dan narik becak, mengatakan, biasanya bantu abang-abang, tutup motor, dan narik becak. Demikian kata dia:  “Kami tutup motor,  narik becak, angkat-angkat barang dari pedagang. Setelah dapat uang biasa main play station (PS) dan isap Aibon”.

Hal senada juga diucapkan oleh Melky Sorabut. Kata dia: “Pagi-pagi datang ke Jalan Irian, bantu angkat barang milik pedagang, pikul barang, atur barang, kasih keluar barang. Setelah itu saya tutup motor. Kalau uang lebih saya belia aibon, makan dan minum, kopi, rokok, dan lain sebagainya”. Masih banyak lagi teman-teman mereka yang mengungkapkan isi hati mereka dalam film dokumenter tersebut.

Ada anak dari Korowai, bernama Agus Kabak. Dia datang dari Yahukimo untuk melanjutkan pendidikan di Wamena. Namun dari tengah jalan ia putus sekolah lantara tidak ada uang. Orang tuanya bertahun-tahun cari tapi tidak mendapatkan. Sekarang di narik mobil strada Tolikara- Wamena, Lanny Jaya-Wamena, Yalimo-Wamena dan lainnya. Orang tuanya sampai sekarang tidak tahu keberadaan dia, sebab Agus sudah berubah nama tanahnya.

Kekerasan Terhadap Anak-Anak

Dalam film ini, Nando mengatakan sering banyak teman-teman ditangkap, dipukul dan ditahan oleh orang. Rupanya ada keterlibatan oleh masyakat biasa, tetapi juga dari pihak aparat keamanan dan militer. Hal ini benar, tidak salah bicara. Saya masih ingat sekitar 12 tahun lalu (2006). Pernah saya di tangkap dan dibawah ke polres Jayawijaya, karena ditudu mencuri handphone milik seorang ibu di depan hotel Baliem Pilamo.

Bahkan kakanda pilot, Denny Jigibalom pun masih ingat. Beliau pernah menangkap beberapa anak-anak jalanan. Baik yang di jalan Irian, Yos Sudarso, Trikora, Pasar dan yang jual bunga-bungan di kota Wamena. Kaka Denny bukan untuk mau pukul, tetapi dia rangkul kami dan kasih uang, makan dan minum. Sungguh itu, kenangan yang tidak bisa lupa dalam sejarah anak-anak di kota dingin ini. Tetapi kalau ketemu polisi atau tentara langsung main pukul.

Dahulu kala, anak-anak diarahkan kepada pekerjaan praktis. Tidak perluh lagi suru mereka kumpul dan memberikan nasehat. Orang tua hanya mengarahkan anak dengan melakukan suatu pekerjaan sederhana bahkan besar. Tanpa kata-akat mati, anak-anak mulai belajar pola hidup dan perilaku sehat disitu. Tentu cara ini tidak mengandung tindak kekerasan. Sekalipun pekerjaan sederhana sangat bermanfaat. Potensi kekerasan jauh dari hadapan anak-anak.  Hal itu juga dapat didukung karena anak-anak tempo dulu rata-rata suka dengar-dengaran.

Melakukan apa saja yang diperintahkan oleh orang tua. Bahkan orang tua pukul juga tidak asal-asalan. Orang tua punya perhitungan untuk bertindak atau melakukan kekerasan pada anak. Kalau anak sudah mengarah ke arah atau terlibat ke hal-hal yang salah. Pasti orang tua akan bertindak untuk mengarahkan anak kepada tujuan yang luhur. Tetapi sekarang jauh dari itu, anak-anak suka melawan orang tua. Bahkan orang tua pukul juga tanpa memikirkan efek. Sampai ada orang tua yang lepas kendali.

Sehingga anak hidup tanpa perlindungan bapa dan mama. Hal ini semua dapat terjadi karena pemekaran wilayah. Kalau Paskalis Kossay dalam buku Pemekaran Wilayah Papua  Solusi Atau Masalah bilang, pemekaran adalah solusi untuk mengejar ketertinggalan pembangunan di Papua dengan Indonesia bagian lain. Saya mau bilang, bahwa pemekaran adalah jawaban kenapa tatatanan hidup masyarakat sudah runtuh total. Omong kosong!

Saya yakin pemekaran baik, tetapi kehadiran pemekaran termasuk missiomaris tanpa masyakat belum siap dan mengerti. Jangan kesal kalau hari ini banyak anak-anak di kota sejuk penuh kedamaian sudah terlalu kacau balau. Masyarakat sudah semakin lupa nilai hidup dalam istana adat dan gereja. Pemerintah masuk tanpa tahapan yang sopan. Akibatnya, merubah perilaku hidup manusia Hugula besar-besar. Masyarakat adat sudah lari dari kebenaran sejati. Kita tunggu persaingan dan pertarungan baru 2018. Orang tua panggil untuk kembali ke Honai.

Penulis adalah anggota aktif Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s