Pentingnya Autopsy Dalam Kasus Pembunuhan dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua

 
(Usefull  of Autopsy on Murdered Cases and Human Rights Abused in Papua)
OLEH : BENYAMIN LAGOWAN
Penyebab kematian manusia bisa terjadi secara wajar dan tak wajar.Kematian yang wajar  lazimnya disebabkan oleh usia manusia yang menua (old of age).Selain itu kematian terjadi akibat ulah manusia (Human behavioral),misalnya seseorang meninggal akibat jatuh sakit, kecelakaan dan bunuh diri. Pada kasus kematian wajar ini dalam realita hidup manusia diterima sebagai kenyataan hidup oleh keluarga. Pihak keluarga dapat menerimanya dengan rela dan menyadari itu sebagai panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa.Jika orang yang meninggal itu adalah seseorang yang sangat dicintai,disayangi oleh keluarga maupun suatu suku bangsa tertentu,pasti ada rasa kehilangan dan itu akan sangat menyakitkan bagi keluarga dan lainnya. Pada kasus kematian dengan wajar ini juga sering dipahami sebagai  kegagalan dalam pertolongan medis ataupun karena takdir tadi. Tidak ada spekulasi penyebab kematian besar yang tercipta. Walaupun ada  biasanya  intrapersonal/intrafamilial karena merasa tak berdaya dengan menyadari semua sebagai kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
Lalu bagaimana dengan kasus kematian yang tidak wajar atau terindikasi dilakukan oleh manusia  kepada manusia lainnya ? Pertanyaan ini sebenarnya tidak sulit dijawab jika beberapa hal ini terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, adanya kesadaran dan pengetahuan tentang hak untuk hidup, bahwa hak ini menempati posisi mendasar bagi  semua  manusia di muka bumi ini. Kedua,institusi penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) harus mampu berdiri dengan menghargai integritas dan independensinya. Ketiga,pemahaman akan Fungsi dan tujuan  penyelidikan (Autopsi) harus ada dan berakar pada semua manusia.
a.    Pentingnya Kesadaran  akan Hak Untuk Hidup secara Universal
Pada sisi ini kita sebagai manusia harus menyadari bahwa  hak untuk hidup merupakan suatu anugerah dari Tuhan yang tidak boleh diambil  dari setiap pribadi oleh siapanpun juga. Dalam pandangan umat beriman hak itu absolut,kecuali diambil kembali hanya oleh Sang pemberi kehidupan itu sendiri yaitu,Tuhan Allah. Kita juga harus menyadari bahwa hak untuk hidup merupakan Hak Asasi paling mendasar  bagi setiap manusia karena secara kodrati sudah ada sejak lahir. Banyak negara-negara di dunia telah mengikuti dan menyepakati piagam HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai landasan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia khususnya hak untuk hidup.
b.    Institusi penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia harus Independen, Profesional dan Berintegritas
Pada sisi ini institusi penegak Hukum dan HAM diharapkan berperan netral  dan profesional dalam mengungkapkan kasus kematian yang tidak wajar. Kepastian jaminan Hukum bagi setiap Warga Negara harus diberikan tanpa memandang latar belakang sosial-budaya,ekonomi,politik (Ideologi),suku/ras dan agama. Supremasi Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk mewujudkan suatu keadilan bagi keluarga korban merupakan tugas dan tanggungjawab kedua  institusi di atas. Nilai kemanusiaan harus dijunjung tinggi melampaui segala aspek kepentingan di atas. Jika penegakan Hukum dan HAM tidak terlaksana secara konsisten, maka konsekuensinya ketidakpercayaan publik terhadap integritas lembaga-lembaga penegak Hukum dan HAM tersebut akan tercipta.Jika demikian, maka kehidupan manusia itu tidak ada penghargaan dan tidak jauh beda dengan binatang sehingga peran penegak Hukum dan HAM dalam suatu negara akan dipertanyakan serta mendapatkan sorotan dari berbagai  komunitas,lembaga, negara
lainnya yang menghargai  menghormati dan menjunjung  tinggi nilai Hukum dan HAM. Pada akhirnya negara tersebut akan dicaplok sebagai Negara cacat Hukum dan HAM, maka citra dan martabat negara pasti terpuruk.
c.    Memahami Fungsi dan Tujuan  penyelidikan melalui Autopsi adalah  sangat Penting
Autopsi merupakan suatu langkah medis forensik yang bertujuan untuk memberikan bantuan pemeriksaan kedokteran kepada kepentingan peradilan.Autopsy penting agar ada kepastian sebab-musabab kematian seseorang. Apalagi jika kematian yang terjadi mendadak,seperti karena penembakan,keracunan,pemerkosaan dan sebagainya (contoh; kasus Paniai berdarah, Kematian mendadak beberapa tokoh Papua, Aktivis ). Pada kasus  seperti ini peran penyelidikan  autopsy penting  untuk mengungkap pelakua dibalik peristiwa kematian tersebut . Hal ini bertujuan agar rasa sakit hati dan ketidakpuasan pihak keluarga atau kerabat tidak menjadi luka batin. Dengan pengungkapan tersebut,maka pihak keluarga bisa merasakan keadilan melalui  hukuman yang setimpal bagi  mereka yang terungkap  sebagai tersangka pelaku pembunuhan tersebut. Sebab, dimata hukum semua manusia tidak ada yang istimewa. Semua wajib diperlakukan sama dan  tidak ada yang kebal hukum.
Jika kita kaitkan dengan realitas di tanah Papua, sebagian besar masyarakat Papua  menyadari bahwa hak hidup itu milik setiap manusia. Kehidupan itu akan jadi lenyap, jika sang pemberi hidup (Tuhan,Moyang/ leluhur) marah  kemudian memberi hukuman atasnya. Tidak dibenarkan jika hak hidup seseorang direngut begitu saja. Bagi Orang Asli Papua, jika seseorang menyebabkan orang  lain berdarah,ada faham darah harus dibalas dengan darah,nyawa harus diganti nyawa. Faham  ini telah menjadi hukum normatif beberapa suku di Papua. Oleh karena itu, pada suku-suku tersebut,perang suku menjadi solusi penyelesaian konflik atas pembunuhan dan pemerkosaan dan lainnya.Fakta setelah adanya pemerintahan dan produk hukum formal saat ini,ditambah adanya lembaga penegak Hak Asasi Manusia pengungkapan kasus pembunuhan jarang diungkapkan secara tuntas dan memuaskan. Penegak hukum seharusnya bekerja secara profesional dengan mengedepankan produk Hukum dan HAM sebagai instrumenpenegakan kebenaran dan keadilan untuk menghormati nilai-nilai kemanusiaan.
Akhirnya  yang menjadi masalah saat ini,mengapa setiap peristiwa kekerasan dan pembunuhan di Papua dalam proses pengungkapannya (autopsi) sering mendapatkan penolakan pihak keluarga? Pertanyaan ini  harus dipahami bahwa ketidakpercayaan akan independensi dan integritas lembaga penegak Hukum dan HAM itu sendiri  masih ada dan telah berakar dalam hati masyarakat Papua. Masyarakat Papua  sebetulnya  menghargai dan berkeinginan agar keadilan itu ditegakan. Tetapi satu hal besar yang harus diperhatikan yaitp erlu adanya wajah baru tenaga dan lembaga eksekutor pelanggar HAM yang  bebas dari corak militerisme (TNI/Polri). Sebab trauma dalam  memoria pasionis akan terus ada sampai hari ini,besok dan selamanya. Negara melalui pemerintah baik eksekutif dan legislatif beserta perangkat penegak Hukum dan HAM hari ini harus berfikir untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Papua (Orang Asli Papua) dengan mewujudnyatakan pendirian Pengadilan HAM dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi agar terwujud masyarakat yang sadar hukum dan nilai kemanusiaan itu mendapatkan tempat yang paling teratas di hati setiap masyarakat Papua dan Indonesia.
Dengan begitu kiranya kerelaan  autopsi sebagai jalan pengungkapan kebenaran dapat diterima dalam mewujudkan kebenaran,keadilan dan tercapainya nilai luhur Hak Asasi Manusia  melalui  penegakan Hukum yang tegas dan merata.
(Penulis adalah Mahasiswa Profesi  Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih Jayapura-Papua)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s