Kumpulan Puisi Oskar Hamberi

Oleh Oskar Hamberi

Puisi Pribadi Tentang Papua

 

#1. Kaulah Anak Dari Sebuah Gereja Tua

 

Di balik timur mentari

terdengar ria kicauan burung cenderawasi

melompat bernyanyi sana-sini

menyambut sang mentari pagi

pula menyapa aku yang lagi berdiri disini

mengajakku berpaling, melihat reruntuhan bata

di sudut halaman gedung tua

yang kusam dan lusu rupanya

 

Ketika aku mencoba mendekati

pada ingatan wajah halaman itu

teringat persis dentingan music juk’lele,

stembass dan iringan seruling

nan indah-rupawan disana

Demikian pula irama pujian bagi Tuhan

dengan jiwa-jiwa penuh riang di zamannya

dalam ketenangan jiwaku

 

Aku mencoba merunduk sejenak,

tergilas pula ingatan pada Imanku

dikala itu, aku direbahkan pada rerumput hijau

Sungguh wajah hatiku

tersuntuk tetesan embun darah Sang Kudus

tercium pula wangi bagai melati pada jiwaku

hingga kini

 

Dan masih terbaring disana,

teringat pula aku di waktu itu

aku merasa dijadikan sekuntum bunga cinta

di istana kerajaan-Nya yang Kudus

Lalu hatiku terbasu tetesan Injil Kasih-Nya

hingga helaan kabut dosa-dosaku

sirna sebening kaca, se kelap emas-tembaga

dan mata nuraniku dapat melihat

pada apa yang tak tertampak oleh mata duniawiku

 

Oh’ kesederhanaan agung

di gedung tua, nan indah di hati….!

 

Sesunggunya

Kau (YPK) lah anak dari sebuah gereja (GKI) tua

bagi generasi bulu emas cenderawasi

yang t’lah menjadi rongsokan pada dunia

di balik timur mentari ini

 

Kini aku sadar…

Bahwa kau tidak pernah menanti dengan usia

Apa adanya kau membuatku meleleh dan menguap

menjadi halibut cinta yang tak pernah bersyarat

 

Seketika aku berdiri lagi untuk berpaling

Sekejap hati, aku ingin kembali pada jiwamu

Menyentuh roh pergerakanmu

Agar kau tak layu begitu saja oleh sang bayu

Agar kau tak mati tergusur ditelang sang waktu

 

Aku ingin kembali pada dedikasih ajaranmu

yang selalu menakar prestasi Injil kehidupan bermartabat

Menjadi terang bagi Negeriku Papua….

Mendidik banyak Orang bagi satu BAPA….

Selalu memberi yang terbaik bagi negeri ini

dengan iman, harapan dan kasih yang terus berusaha

mendidik anak-anak Generasi Papua

untuk menjadi tuan di atas negerinya…..

Dan memimpin dirinya sendiri…..

 

“TERIMAKASIH YPK DI ATAS TANAH PAPUA”

 

~ Oskar Hamberi
Salatiga, 08 Maret 2018

 

 

#2. Papuani Mencari Negeri

Di ufuk timur mentari
diam dan menyepi
aku melihat PAPUANI
yang terus mencari negeri
tak kunjung henti…..

Dan berkaki kasuari
dia tetap berlari
mempertahankan harga diri
mendoakan negeri
bekerja di jalan ini
tak lelah, tiada henti..

Sbab di pagi hari
kicauan ria cedderawasi
terus membangunkan mentari
mencari kebebasan Ilahi
di atas jeritan negeri ini…..
Oh’ kawanku….
Diatas tanah leluhur ini…
Akankah aku bersama PAPUANI ?
Ataukah diam dan menyepi ?

~Oskar Hamberi

Salatiga, 05 Maret 2018

 

 

#3. Kehidupan yang Terlahir Melalui Engkau

Ada kehidupan yang rindu
akan dirinya sendiri…
kehidupan yang terlahir
melalui engkau dan untuk engkau.
Dan kini meskipun mereka
ada bersamamu saat ini,
tapi kehidupan itu
bukan milik mereka-mereka itu.
sbab pikiran mereka sendiri
hanyalah diri mereka yang seraka.

Sekali lagi
ada kehidupan
yang terlahir melalui engkau,
Sbab masih ada Tuhan di sini
bersama alam-Nya.
Lalu menyepi dari dengki
terhadap mereka,
bergembiralah bersama harapan
dalam perlawanan,
terpenuhi hangat di dalam kasih
yang melimpah ruah,
dan bersiteguh untuk pembebasan
masa depan enkau.

~ Oskar Hamberi
(Salatiga, 29 Januari 2018)

 

 

#4.  Jeritan Jelita Manis Papuaniku

Jelita manis papuaniku
Melewati pagar sagumu yang unik
Sungguh tiada tara luasnya rumahmu
terisi kekayaan alam permata langit
yang tak terbatas di tengah-tengah dukamu

Dan kini ada jeritan
di susupan sudut alam kalbuku
Sebab menghampiri rumahmu itu
seperti istana, seperti surga kecil
di tengah-tenga kerajaan dunia
dan bangsa-bangsa t’lah datang
dengan tidak henti-hentinya
Tetapi disayangkan
bahwa disana, mereka akan
minum dengan lahap….
makan dengan rakus…
Karena hati mereka t’lah menjadi
seakan-akan tidak pernah ada
pada sebuah nilai kemanusiaan

Oh’ sesunggunya…
Jelita manis, papuaniku!

Jika malam-malam
mereka hanyalah pencuri
yang mendatangi rumahmu
yang merampoki seluruh harta benda
kekayaan alammu
Lalu datanglah mereka kepadamu
betapa engkau dibinasakannya oleh mereka
S’bab seisi harta rumah istanamu
tidak akan pernah terhabisi
oleh keserakaan mereka yang fana
Dan tidak ada lagi pengertian pada hati mereka

~ Oskar Hamberi
(Salatiga, 08 Maret 2018)

 

#5. Ya Alam Papuaku

Di negeri keriting
tampaklah suatu tanda besar di langit
seekor cenderawasi berselubung bintang
dengan kekayaan alam semesta alam di kakinya
Namun ia berlari mencari pengakuan diri
karena dunia tidak mengenal kehidupannya pula

Sebagai tanah pijakan kaki surga-Nya
orang-orang belum banyak mengenal dirinya
Karena berbondong-bondong mereka berdatangan
mereka belum mengenalnya di dalam kasih-Nya pula

Mereka seolah-olah berjalan
di tengah-tengah lara keserakaan duniawi yang rakus
ketamakan dan arogansi mereka
ditunjang oleh monopoi dan eksploitasi kaum elit,
yang menjadi pil pahit dan ironi pada jiwa
mati dalam kegelapan tanpa tujuan kemanusiaan
Sungguh betapa memprihatinkan di hati

Ya Alam Papuaku…..!

Aku mohon agar kelak di tanah ini nanti
Kiranya lewat kekayaan alam surga duniamu
Semua orang dapat mengenalmu dengan hati
dan menjadi bahagia memandang kasih-Nya
sebagai terang hidup sejati yang akan menuntunmu
menuju kepada “Sang Bintang Fajar” kehidupan

~ Oskar Hamberi

(Salatiga, 20 Maret 2018)

 

#6. Pelombah Kejahatan di Bumi West Papua Meke

Di ujung timur mentari

mereka berlomba-lomba

mendulang emas tua

di sungai rakyat west papua meke

Dan merampas mata airnya

untuk mengaliri padi gogo

untuk memutar susu cow boy gendut

Sedangkan rakyat di bungkam

mengharungi muara,

berlimbah darah kematian

 

Di ujung timur mentari

mereka dan mereka

hanyalah pelombah kejahatan

perampok kehidupan rakyat

tanpa memikirkan kedaulatan kemanusiaannya

 

Maka satu kata perkalimat, “LAWAN dan LAWAN”

Jangan biarkan dusta penindasan berkuasa

di negeri West Papua Meke.

 

~Oskar Hamberi

Salatiga, 15 Maret 2018

__________________________________

Where’re them ??? “

They’re colony, capitalisme-imperialisme in west papua meke!

 

 

#7. Dompet-Harta Karung Rakyat, Dijajah-Malingkan Penguasa

 

Dompet-dompetan

di copet-copetan

sungguh kehidupan di jajah

dompet rakyat

di copet penguasa

di copet colonial masa kini

 

Harta karung-mengarung

di hilang-malingkan

sungguh kehidupan di bunuh

harta karung anak cucu bangsa

di maling kapitalis-imperialis dunia

 

Apele kawan-kawan….!

 

Rakyat yang ditindas penguasa

Ayo diajak bersatu untuk melawan

Ayo melawan tiada henti-hentinya

Ayo melawan untuk bebas dan hidup

dari sebuah dusta penindasan masa kini

 

~Oskar Hamberi

Salatiga, 15 Maret 2018

___________________________

Koloni Kanibalisme

Kapitalis-Imperialis Satanisme

 

 

#8. “Rendamlah Ego, Bersatu dan Lawan”

 

Sepiring tak seperak

sepaham tak sepadan

nilai hakiki mati

dikala mencari kebenaran

muncul idealisme yang tak beraturan

Karena ego kita sana-sini

 

Sungguh,

mencari sayang tak bersahabat!

 

Coba kau lihat…

Mencari nilai hakiki

kebenaran tak ada faedahnya

jika hanya beradu idealisme

yang menyudutkan paham-sepaham

yang melalaikan pula nilai persatuan

 

Oh’ sayang-disayangi..,

Kita sedang disayangi politik praktis

Kita sedang dibungkam

oleh situasi labirin kongkalingkung

oleh situasi mereka (penjajah) yang berpikir Illahi

tetapi sayang, pengertian mereka

hanya seperti (berhati) EZOL

 

Jadi mari kawan-kawan….

Jika paham kita tak sepadan

jangan umpat menyudutkan

hingga saling melupah kebebasan

 

Hapuslah segala provokasi

antara sukuisme gunung-pante

mari bergandengan erat

rendamlah egoisme yang menghancurkan

 

Ciptakanlah sejiwa kepapuaan,

Gapailah hati perlawanan tak henti

hingga nalar sekata, “Bersatu dan Lawan”

Lawan dan lawan ketidakadilan mereka!

 

Oskar Hamberi

Salatiga, 13 Maret 2018

 

 

#9.  Alam Papua, Kebebasan Hidupku

 

Di gunung-gunung, pun lembah,

sungai-sungai bernyanyi ria di tiap saat.

di pesisir pantai, pun pulau-pulau,

lumba-lumba sedang berpatroli di perairan.

 

Sekeliling pohon matoa,

anggrek hitam menawan mempesona,

pohon sagu di tenga rawa,

pohon bakau di pinggir pantai,

burung luri beria-ria di atasnya.

 

Setinggi rindang-randing pohon beringin pun kayu besi,

cenderawasi mempertontonkan keunikan alam ini.

 

Sepanjang subuh bertemu fajar mentari,

anjing-anjing berburu menangkap daging segar.

 

Pohon subur di tepi aliran sungai yang jerni,

emas permata mengalirkan kehidupan semua orang

 

Sungguh mempesona di hati,

terlihat kebijaksanaan alam semesta alam di negeri ini.

 

Dan di sini, di sisi alam yang indah itu,

aku datang jauh-jauh ke diriku sendiri,

aku damai dan tenang pada kemurnian hati,

aku merasakan kebebasan di hidupku.

 

Ia Tuhan, terimakasih untuk alam papuaku!

 

~ Oskar Hamberi.

Salatiga, 18 Juni 2017

 

 

#10. TOA FRI-WEST PAPUA, Kaulah Kawanku

 

Panjang memandang di kiri jalan

aku selalu melihatmu memegang toa merah puti

berlabel FRI-West Papua di depanku.

 

Kini aku melirik hiudpmu

yang mungkin tak banyak tidor di honai meke

namun tersungkuh hatiku didekatmu

diikala melihat muliahnya kau mempunya banyak mimpi

tentang apa arti berdiri di jalan ini

untuk duka orang papua.

 

Sehelai gumpalan tangan kiri diangkat

aku melihat kau selalu bergetar rupamu

dan geram melihat ketidak-adilan bagi rakyat papua

akhirnya aku pun tahu, “kaulah kawannya Che Guevara”

 

Berdiri sama derajat…

Kau datang dan pergi di jalan ini

bukan lagi beretorika tentang lahirnya boikot aneksasi

bukan pula soal bagaimana jalan revolusi nanti

tetapi kau datang, memerhati kepapuaan

membangun kesadaran bersama di sudut-sudut kota koloni

berorasi tentang adanya kejahatan kemanusiaan

di bumi cenderawasi meke selama ini

 

Lalu terus memegang toa merah putimu …..

Kau tak pernah henti-hentinya teriak papua merdeka

“papua itu bintang kejora, baru ko bilang merah-puti!

 

Apele kawanku….

kaulah mimbar toa akademisi masyarakat bagi rakyat papua

kaulah toa budhi pekerti, pembelah kebenaran politik papua

Kaulah Sang Toa FRI-West Papua bagi kawan-kawan papua

di kiri jalan ini

 

Kini aku berterimakasih

bahwa orang papua akan merasa bersyukur

dari apa yang terpenting di sudut kota koloni ini

ialah tahu bahwa ada kawan-kawan yang jujur dan peduli

terhadap realita penindasan orang papua di negeri ini

 

~ Oskar Hamberi

Salatiga, 13 Maret 2018

 

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s